Connect with us

Cerita Utus

Curhatan Nelayan Korban Bencana Pasigala Pada Pilkada 2020

Tamrin seorang nelayan yang lagi asik membuat pelampung dengan bahan sandal bekas. (Foto: Miftahul Afdal/Utustoria)

Senja sore itu, tepat pukul 17.15 Wita langit diperindah dengan selimut mega mengantar matahari ketempat peristirahatannya dengan indah. Seiring dengan itu, tampak pria paruh baya sedang asik duduk dibangku pinggiran jalan jalur dua Jl. Soekarno Hatta di Kelurahan Tondo Kecamatan Matikulore.

Pria dengan kulit yang semakin keriput itu ternyata Tamrin yang sudah berumur 65 tahun yang sedang menikmati pekerjaannya membuat pelampung dari sendal jepit bekas untuk salah satu perlengkapan nelayan.

Jangan melihat umurnya yang semakin tua, Tamrin yang juga merupakan korban bencana Pasigala ini merupakan nelayan yang lihai dalam profesinya yang ditekuninya sejak lama. Hanya saja, saat ini kondisi Tamrin tidak seperti dulu lagi.
Sejak rumahnya hancur karena hantaman tsunami serta perahu sebagai wadah satu-satunya untuk mencari nafkah ikut hancur berkeping-keping, yang akhirnya pria lansia ini harus menganggur.

“Pekerjaan saya sehari-hari selama ini nelayan, dari habis bencana saya belum ada pekerjaan yang jelas, belum ada, perahu dan alat tangkap habis disapu tsunami,” ucapnya.

Ia mengakui, saat ini dirinya telah mendapatkan bantuan perahu dari pemerintah. Namun lagi-lagi bantuan yang diberikan itu butuh pembenahan dan perlengkapan untuk dapat digunakan dengan maksimal. Sehingga jelas, harus merobek kantong Tamrin yang telah lama belum dapat terisi.

“Bagaimana mau perbaiki perahu, sementara dana tidak ada mesin juga tidak, yang ada hanya perahu saja,” ujarnya.

Hal ungkapannya itu bukan karena tidak adanya rasa syukurnya, namun kondisi yang benar-benar belum bisa membangunkannya dari pengangguran. Akibatnya banyak nelayan yang menganggur, bukan hanya dia saja. usia yang sudah lebih dari setengah abad berdampak pada kondisi tubuhnya yang tidak dapat lagi bekerja lebih banyak daripada sekedar menjadi seorang nelayan. “Umur-umur semacam saya ini tidak bisa lagi kerja berat, mau kerja bangunan seperti dulu tidak bisa lagi,”imbuhnya.

Dengan umur dan kondisinya saat ini, justru beban hidupnya cukup berat. Hidup tanpa pendamping (istri), Tamrin juga menafkahi sebanyak lima buah hatinya yang ikut juga bersamanya disalah satu Huntara.

“Lihat saja sendal rusak yang bertumpuk ini, hasil dari saya ambil dari tempat sampah, mau beli pelampung saja tidak ada uang, jadi beberapa hari ini saya mencari sendal-sendal ini dibuatkan pelampung untuk menjala ikan, kalau mengharapkan terus bantuan dari pemerintah saya dan anak-anak tidak bisa makan,” katanya.

Tidak ada lagi harapan yang bisa terucap dari bibirnya, kecuali berharap kehadiran pemimpin yang tidak hanya mementingkan kantong pribadi atau kelompoknya. Melainkan masyarakat yang berada diakar rumput butuh perhatian lebih. Seperti bantuan peruhu yang diberikan, diharapkan tidak hanya setengah hati. Sehingga nelayan dapat memberdayakan bantuan yang dapat diberikan oleh pemerintah. Selain itupun, ia bersama nelayan lainnya juga berharap pada calon Kepala Daerah pada Pilkada 2020 memberikan janji yang dapat diterapkan dan direalisasikan.

Oleh : Miftahul Afdal / Wartawan Utustoria.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
%d bloggers like this: