Connect with us

Daerah

Diduga Ada Tambang Ilegal di Dataran Toili , Polisi Diminta Bertindak

Utustoria , BANGGAI – Aktivitas pengerukan sungai yang diduga ilegal di Wilayah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah kian marak.

Betapa tidak , aktivitas penambangan pasir ini dinilai tidak memiliki alas izin galiam C yang sah. Pada aktivitas pengambilan material tersebut menggunakan mesin domfeng bahkan alat berat jenis eksavaotor dan telah berjalan bertahun-tahun tanpa ada tindakan yang tegas oleh Pemerintah maupun Penegak Hukum dalam hal ini pihak Kepolisian.

Akibatnya , maraknya aktivitas tersebut menimbulkan banyak keluhan dari masyarakat wilayah Dataran Toili , seperti tidak normalnya aliran sungai yang dapat mengancam abrasi sungai. Bahkan kelestarian sungai saat ini terancam rusak akibat aktivitas tambang. Serta merusak fasilitas umum seperti putusnya jembatan penghubung antar Kecamatan Toili dan Moilong.

Selain itu, dari hasil amatan Utustoria setidaknya terdapat 11 desa yang kerap terdapat aktivitas tambang yang di duga ilegal, yakni :

1. Kecamatan Moilong
a. Minahaki
b. Karya Jaya

2. Kecamatan Toili
a. Mansahang
b. Singkoyo
c. Jaya Kencana
d. Sentral Sari
e. Tolisu
f. Cendana Pura
g. Mekar Kencana

3. Kecamatan Toili Barat
a. Sindangsari
b. Karya Makmur
c. Mekar Jaya
d. Mekar Sari

Anehnya dari 11 Desa tersebut, aktivitas tambang tersebut berkedok nomalisasi sungai. Padahal , praktek tambang (pengambilan material) berbeda dengan aktivitas nomalisasi sungai.

Koordinator Pelaksana Jaringan Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) Moh. Taufik mengatakan Aktivitas pertambangan pasir yang di duga berkedok normalisasi sungai, yang di temukan oleh masyarakat di beberapa kecamatan di kabupaten banggai, seharusnya ditindaklanjuti oleh pihak aparat penegak hukum (Kepolisian). Hal yang penting dilakukan oleh aparat penegak hukum melakukan pengecekan dilokasi aktivitas pertambangan yang berkedok normalisasi tersebut, untuk mencegah praktek-praktek pertambangan ilegal yang selalu bersembunyi dibalik jubah normalisasi sungai.

Modus Berkedok Normalisasi sungai, adalah modus baru yang sebenarnya digunakan pelaku-pelaku ilegal mining di pertambangan Sirtukil, ini kepentingannya untuk menghindari proses-proses pengurusan perizinan yang ada di pemerintah daerah, yang sebenarnya jika hal ini terus dibiarkan berlangsung akan merusak keberlangsungan lingkungan hidup, dan memberikan kerugian kepada negara, karena ada beberapa kewajiban yang tidak dibayarkan ketika aktivitas pertambangan ini berlangsung.

Lanjut Taufik , adapun jika aktivitas yang disebut normalisasi sungai tersebut telah melakukan penjualan (perdagangan material), hal itu diduga melanggar pasal 158 UU nomor 4 tahun 2009, karna sudah ada penjualan material yang kemudian menguntungkan perorangan atau korporasi.

” Meski dianggap melakukan normalisasi sungai , namun menjual material hal itu diduga masuk dalam aktivitas pertambangan ilegal,” tutupnya. (um)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
%d bloggers like this: