Connect with us

Daerah

Hari Ini SPIM Lakukan Aksi , Besok Komisi III Gelar Rapat Dengar Pendapat

Utustoria , MOROWALI – Serikat Pekerja Induatri Morowali (SPIM) melakukan aksi demonstrasi di Kawasan PT IMIP pada Selasa (3/12/2019) untuk meminta agar SOP K3 diterapkan sesuai ketentuan hukum Indonesia.

Menurut rilis dari SPIM , aksi tersebut dilakukan mengingat banyaknya kasus kecelakaan kerja yang terjadi dikawasan IMIP. Seperti yang menimpa Alm. Rian Sucipto (25 Thn) yang merupakan pekerja dikawasan IMIP sebagai crew mekanik tungku ferrochorome PT. IRNC. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 06.00 WITA Rian Sucipto sedang memperbaiki tungku yang rusak sambil menunggu waktu pergantian shift. Namun sekitar pukul 06.30 wita, saat sedang melakukan perbaikan tiba-tiba tungku itu mengeluarkan semburan api yang mengenai sekujur tubuh korban.

Melihat kejadian itu, rekan korban yang melihatnya langsung membawa Rian ke Klinik PT IMIP. Untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif, selang beberapa jam kemudian sekitar pukul 07.30 Wita pihak Klinik IMIP merujuk korban ke RSUD Morowali. Sesampainya di RSUD Morowali, warga Desa Uedago Kecamatan Bungku Barat ini langsung mendapatkan penanganan maksimal. Namun nasib berkata lain, pada Minggu (24/11) korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 09.00 Wita.

Sebelum itu pada (22/10), Karyawan yang bekerja di Divisi Furnance CSI atau karyawan titipan BSI bernama La Ode Abdul Riyan juga mengalami luka bakar di tubuhnya. Kejadiannya bermula pada saat setelah melakukan briefing pada pukul 15:00 Wita saat shift 2, beberapa karyawan furnace ditugaskan untuk melakukan pemasangan sign atau rambu-rambu dari platform 0 m sampai 29 meter antara furnace 1 dan 2 CSI. Pada saat korban sampai di tangga antara platform 14 – 19, terjadi kebakaran, yang berdasarkan keterangan saksi dan analisis di lapangan disebabkan adanya kebocoran pada bagian gate baghause burnergun kiln. Sehingga, mengakibatkan keluarnya semburan batu bara halus.

Sementara di area accident banyak kegiatan pengelasan dan sumber panas lainnya karena masih dalam tahap konstruksi, sehingga memicu menyalanya api dari batu bara halus tersebut. Bersamaan dengan itu tiba-tiba terjadi semburan api yang terkena hampir seluruh anggota tubuh korban yang kebetulan jarak dari titik semburan berdekatan dengan si korban.

Kecelakaan kerja juga terjadi pada Kamis (26/9) korban BT mengendarai truck 10 roda mengangkut slag dari lokasi PT IMIP ke PT Indonesia Ruipu Nickel Chrome Alloy (PT IRNC). Kecelakaan terjadi disaat mobil yang dikendarai tidak mampu menanjak dan akhirnya terguling menindis korban, hingga yang bersangkutan nyawanya tidak terselamatkan. Rentetan kasus kecelakaan kerja diatas menjadi bukti bahwa ada yang keliru soal penerapan SOP dan manajemen K3 sehingga kecelakaan kerja tidak dilakukan pencegahan sehingga mengurangi resiko kecelakaan kerja.

Saat ini telah tercatat sebanyak 154 kasus kecelakaan kerja dikawasan IMIP sejak Bulan januari hingga september tahun 2019 berdasarkan klaim BPJS ketenagakerjaan dan tidak sedikit yang berujung pada kematian. Artinya, bila dirata-ratakan sekitar 17 Orang perbulan. Itupun dari data yang terlapor, belum lagi kasus yang tidak terlapor.

Sudah menjadi logika sebuah perusahaan demi meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan mengurangi atau memangkas cost produksi. Alhasil, tidak lagi memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja lewat ketegasan dalam menggunakan Standar Operasional prosedur. Kenderaan atau alat yang sudah tidak layak pakai masih digunakan, pengalihan pabrik ferrochorome menjadi ferronickel yang jelas-jelas spesifikasi mesin dan kegunaan berbeda tapi dipaksakan, penggunaan Alat Pelindung Diri yang tidak layak dan lain-lain.

Siapa yang jadi korban, yaitu pekerja atau buruh yang jadi korbannya. Seakan bertaruh nyawa untuk mendapat Upah yang belum tentu layak. Sudah cukup kasus kecelakaan kerja yang terjadi hari ini, jangan jadikan kami lagi menjadi korban berikutnya. Sehingga menurut kami perlu adanya tindakan untuk mengevaluasi menyeluruh mengenai hal tersebut baik itu pihak IMIP Group selaku pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang terjadi, dan Pihak pemerintah selaku pengawas yang seakan tutup mata dengan hal itu. Untuk itu kami dari Serikat Pekerja Industri Morowali (SPIM) Menuntut :

  1. Mengutuk keras insiden kecelakaan kerja yang sudah kerap terjadi dan berakibat fatal.
  2. Pihak Perusahaan dikawasan IMIP harus Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap standar Operasional Prosedur (SOP) dan penerapan K3 yang sesuai dengan ketentuan hukum di Indonesia.
  3. Pihak Pemda harus memaksimalkan pengawasan terhadap pemasalahan ketenagakerjaan (Kecelakaan Kerja , kesehatan Kerja, Penggunaan system kerja kontrak pada pekerjaan yang sifatnya tidak tertentu yang menyalahi UU ketengakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, dll)
  4. Mendesak DPRD kab. Morowali Segera membentuk Pansus guna mengevaluasi permasalahan SOP dan K3 dikawasan IMIP
  5. Meminta Pihak Klinik PT. IMIP agar memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam aksi tersebut , Komisi III DPRD Morowali serta Dinas Nakertrans sangat mendukung aksi yang dilakukan oleh SPIM yang mana sistim K3 di Kawasan PT IMIP harus dibenahi. Dengan melakukan musyawarah serta duduk bersama antara Komisi III DPRD Morowali , Nakertrans dan SPIM melahirkan kesepakatan bersama bahwa akan mengundang seluruh pihak terkait serta tim K3 pada Rabu 4 Desember 2019 untuk melaksanakan Rapat Dengar Pendapat yang dilaksanakan oleh Komisi III diruang rapat Komisi III. (um)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
%d blogger menyukai ini: