Connect with us

Ekonomi

Manado Pencetak Tertinggi, Palu Urutan ke-8 Dikawasan Sulampua

Utustoria , PALU – Kota Manado (Sulawesi Utara) tercatat sebagai kota pencetak inflasi tertinggi yakni 3,30 persen, sedangkan Kota Palu (Sulawesi Tengah) tercatat menempati urutan ke-8 inflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-27 secara Nasional.

Seperti yang dilansir melalui laman resmi Bandan Pusat Statistik , bps.go.id, dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 3,30 persen dan terendah di Kota Malang sebesar 0,01 persen. Kota Tanjung Pandan mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,06 persen, sementara Kota Batam dan Denpasar mengalami deflasi terendah sebesar 0,01 persen. Kota Palu menempati urutan ke-8 inflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-27 secara Nasional.

Kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan (0,79 persen) , diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,30 persen), kelompok kesehatan (0,27 persen), kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,11 persen), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,05 persen), serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,01 persen). Sedangkan kelompok sandang mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,24 persen.

Inflasi tahun kalender bulan November 2019 terhadap Desember 2018 sebesar 1,46 persen, sementara inflasi year on year (November 2019 terhadap November 2018) sebesar 2,58 persen.

Selama November 2019, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,27 persen yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga yang terjadi pada kelompok bahan makanan (0,79 persen) , diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,30 persen), kelompok kesehatan (0,27 persen), kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,11 persen), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,05 persen), serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,01 persen). Sedangkan kelompok sandang mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,24 persen.

Pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 2,58 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 5,69 persen, sedangkan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 0,22 persen. Inflasi Kota Palu sebesar 0,27 persen disumbangkan oleh andil kelompok bahan makanan sebesar 0,17 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,07 persen, kelompok pengeluaran transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga dengan andil di bawah 0,01 persen. Sedangkan andil negatif disumbangkan oleh kelompok sandang sebesar 0,01 persen.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tomat buah (0,17 persen), daging ayam ras (0,11 persen), ikan mujair (0,07 persen), rokok putih (0,03 persen), angkutan udara (0,03 persen), ikan teri segar (0,02 persen), rokok kretek filter (0,02 persen), ayam hidup (0,02 persen), wortel (0,02 persen), dan tomat sayur (0,02 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan cakalang (0,06 persen), ikan lajang (0,05 persen), kacang panjang (0,04 persen), cabai rawit (0,03 persen), cabai merah (0,03 persen), sayur bayam (0,03 persen), tahu mentah (0,03 persen), nangka muda (0,02 persen), ikan kakap merah (0,02 persen), dan sayur kol putih (0,02 persen).

I. Perkembangan Inflasi/Deflasi Menurut Kelompok Pengeluaran
Selama November 2019, hasil pantauan terhadap perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat Kota Palu dirinci menurut tujuh kelompok pengeluaran sebagai berikut :

1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan selama November 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,79 persen yakni dari 148,44 pada Oktober 2019 menjadi 149,62 pada November 2019.

Secara keseluruhan kelompok bahan makanan memberikan andil positif terhadap inflasi sebesar 0,17 persen. Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok buah-buahan (16,56 persen), daging dan hasil-hasilnya (6,64 persen), ikan diawetkan (1,66 persen), padi-padian, umbi￾umbian, dan hasilnya (0,19 persen), serta telur, susu, dan hasil-hasilnya (0,14 persen). Sementara penurunan indeks harga terjadi pada subkelompok sayur-sayuran (4,38 persen), kacang-kacangan (4,01 persen), bumbu-bumbuan (1,68 persen), ikan segar (0,40 persen), lemak dan minyak (0,27 persen) . Subkelompok bahan makanan lainnya selama November 2019 relatif tidak mengalami perubahan.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Dibandingkan bulan sebelumnya, kelompok ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,30 persen yakni dari 160,24 pada Oktober 2019 menjadi 160,72 pada November 2019. Andil kelompok ini secara keseluruhan terhadap inflasi adalah positif sebesar 0,07 persen. Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 1,14 persen, diikuti subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,46 persen, sedangkan subkelompok makanan jadi terpantau stabil.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar selama November 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,05 persen yakni 135,13 pada Oktober 2019 menjadi 135,20 pada November 2019. Secara keseluruhan, kelompok ini memberikan andil positif terhadap inflasi sebesar 0,01 persen. Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,44 persen, perlengkapan rumah tangga 0,03 persen, dan biaya tempat tinggal 0,02 persen. Sedangkan pada periode yang sama subkelompok bahan bakar, penerangan dan air relatif tidak mengalami perubahan indeks harga.

4. S a n d a n g
Berbeda dengan bulan sebelumnya, kelompok sandang mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,24 persen, yakni dari 120,44 pada Oktober 2019 menjadi 120,15 pada November 2019. Secara keseluruhan, kelompok sandang memberikan andil negatif terhadap inflasi sebesar 0,01 persen. Penurunan indeks harga terjadi pada subkelompok sandang laki-laki 0,56 persen, barang pribadi dan sandang lain sebesar 0,34 persen, dan sandang anak-anak sebesar 0,02 persen. Sementara kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok sandang wanita sebesar 0,02 persen.

5. K e s e h a t a n
Indeks harga pada kelompok kesehatan selama periode November 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,27 persen dari 134,20 pada Oktober 2019 menjadi 134,56 pada November 2019. Andil kelompok ini, secara keseluruhan terhadap inflasi sebesar 0,01 persen. Selama November 2019 subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,56 persen, diikuti subkelompok obat-obatan sebesar 0,11 persen. Subkelompok jasa kesehatan dan jasa perawatan jasmani selama November 2019 terpantau relatif stabil.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga selama November 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,01 persen dari 140,95 pada Oktober 2019 menjadi 140,96 pada November 2019. Andil kelompok ini secara keseluruhan terhadap inflasi di bawah 0,01 persen. Subkelompok rekreasi mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,05 persen, diikuti subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan sebesar 0,03 persen. Sementara subkelompok pendidikan, kursus/pelatihan, dan olahraga relatif tidak mengalami perubahan harga.

7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Berbeda dengan bulan sebelumnya, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan selama November 2019 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,11 persen dari 138,11 pada Oktober 2019 menjadi 138,26 pada November 2019, sehingga secara keseluruhan kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen. Subkelompok transpor mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,20 persen, sementara subkelompok komunikasi dan pengiriman mengalami penurunan indeks harga sebebsar 0,16 persen. Disisi lain sarana dan penunjang transpor, serta jasa keuangan pada bulan ini relatif tidak mengalami perubahan.

II. Perkembangan Inflasi/Deflasi Selama Tiga Tahun Terakhir

Inflasi Kota Palu pada bulan November 2019 sebesar 0,27 persen. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Kota Palu tercatat mengalami inflasi dibulan November, kecuali pada tahun 2017.

Pada periode November 2018 Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,83 persen, sedangkan pada periode yang sama tahun 2017 Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Sementara laju inflasi tahun kalender periode Desember 2018 hingga November 2019 sebesar 1,46 persen menjadi yang terendah bila dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 dan 2018 dengan laju inflasi masing-masing sebesar 2,41 persen dan 5,29 persen. Inflasi year on year periode November 2018 hingga November 2019 sebesar 2,58 persen lebih rendah dibandingkan inflasi year on year periode yang sama tahun 2017 dan 2018 yang masing-masing sebesar 3,58 persen dan 7,27 persen.

III.Perbandingan Inflasi/Deflasi Nasional dan Kawasan Sulampua
Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 3,30 persen dan terendah di Kota Malang sebesar 0,01 persen. Kota Tanjung Pandan mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,06 persen, sementara Kota Batam dan Denpasar mengalami deflasi terendah sebesar 0,01 persen. Kota Palu menempati urutan ke-8 inflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-27 secara Nasional.

Di tingkat nasional, sebanyak 57 kota mengalami inflasi selama November 2019. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado (3,30 persen), diikuti Merauke (1,21 persen), Tanjung (0,97 persen), Bau-bau (0,87 persen), Jayapura (0,85 persen), Pare-pare (0,84 persen), Tarakan (0,63 persen), Bima (0,62 persen), Maumere (0,62 persen), Cilegon (0,52 persen) dan kota-kota lainnya dengan inflasi di bawah 0,50 persen. Sementara deflasi terjadi di 25 kota yakni Tanjung Pandan (1,06 persen), Sorong (0,86 persen), Ambon (0,83 persen), Pangkal Pinang (0,82 persen), Medan (0,77 persen), Bungo (0,51 persen), Meulaboh (0,50 persen), dan kota-kota lainnya dengan deflasi di bawah 0,50 persen.

Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), selama November 2019 tercatat 14 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado (3,30 persen), diikuti Merauke (1,21 persen), Bau-bau (0,87 persen), Jayapura (0,85 persen) dan kota-kota lainnya dengan inflasi di bawah 0,85 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong (0,86 persen), diikuti Ambon (0,83 persen), Tual (0,46 persen), dan Kendari (0,36 persen).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
%d bloggers like this: