Connect with us

Matahari Tunggal dan Mitos Pilkada Banggai

Marhum Backrie / Utustoria

Oleh : Marhum / Wartawan Utustoria

Politik itu dinamis, itu kata sahabat saya ketika duduk sambil diskusi diwarung kopi sambil menikmati securuput pahitnya kopi hitam ala pengamat politik.

Kenapa membahas politik ? , yah memang sekarang ini lagi asyik-asyiknya membicarakannya dimoment Pilkada serentak 2020. Asyiknya karena Kabupaten Banggai salah satu daerah yang ikut serta dalam kontestasi Pimilukada serentak ini.

Iseng-iseng, sekalian membahas rekomendasi parpol yang saat ini menjadi rebutan bakal calon. Tapi yang paling menantang itu ketika membicarakan hasil survei yang dikeluarkan oleh LSI beberapa waktu lalu melalui konfrensi persnya kepada awak media se Kabupaten Banggai dengan menyebut ” Herwin Yatim Matahari Tunggal ” di Pilkada Banggai.

Alasannya rasional, dalam hasil survei mereka, Herwin (Petahan) memperoleh hasil yang signifikan yakni melebihi 50 persen. Dan sebutan Matahari Tunggal itu bukan tanpa alasan tapi menurut LSI, ada beberapa indikator yang harus diperoleh seorang Herwin Yatim, yaitu ;

Eletabilitas Kokoh Yaitu, Didukung oleh mayoritas suara dengan elektabilitas diatas 50 persen.

Total Swing Voters jika ditambahkan pada calon lain total suaranya tidak melebihi elektabilitas kandidat Matahari Tunggal.

Selisih eletabilitas lebar, kandidat disebut Matahari Tunggal jika selisih elektabilitas terpaut diatas 30 persen dengan kompetitor terdekat.

Calon Matahari Tunggal ditandakam dengan adanya pemilih militan yang solid. > 60 persen dari total pemilih kandidat, atau prosentasi pemilih militan diatas 30 persen.

Sedangkan dalam survei LSI, menemukan 5 alasan Petahana itu sebagai Matahari Tunggal. Yakni ;

1. Aproval Rating diatas 70 persen
2. HY paling populer dan paling disukai
3. Herwin Yatim unggul di 5 kantong pemilih penting
4. > 50 persen publik menginginkan HY menjabat kembali
5. Mayoritas publik Banggai menyatakan Herwin Yatim sulit dikalahkan.

Buseeett…. siapa saja yang melihat survei ini pasti bakal gemeteran. Melihat hasil survei yang cukup tinggi seakan Herwin bukan tandingan buat kandidat lain. Apa iya?

Tapi sabar dulu, dalam rilis LSI juga menjelaskan, ada tiga hal yang bisa merubah suara, apa saja ?

1. Swing Voters dan Soft Supporter

Yaitu beralihnya dukungan mereka yang belum punya pilihan bisa menentukan siapa pemenangnya. Siapa pun kandidat yang lebih mampu mengambil suara swing voters yang lebih besar akan menang. Makin mendekati hari H biasanya jumlah swing voters makin kecil. Selain pemilih mengambang terdapat pemilih lemah yang bisa berubah sikap.

2. Besar kecilnya angka golput

Menang atau kalah ditentukan oleh kemampuan kandidat menekan tingkat golput pendukungnya

3. Terpaan isu negatif (Negative Campaign) dan Blunder Politik

Negative Campaign merupakan kampanye menyerang lawan dengan fakta-fakta yang melemahkan. Isu mengatif yang massif terhadap seorang kandidat dapat merubah suara kandidat tersebut.

Apalagi isu negatif itu keluar dari blunder politik yang terjadi, seperti pernyataan polemik yang tidak simpatik, masalah asusila, dan kasus korupsi.

Kalau orang sekarang bilang ngeri-ngeri sedap yah. Walaupun hasil survei yang cukup tinggi ternyata sang Matahari Tunggal belum bisa tenang sebelum menang.

Survei Pilkada 2015

Jika melihat kebelakang, tepatnya 2015 silam, hasil survei Media Survei Indonesia (MSI) memaparkan pasangan Ma’mun Amir-Batia Sisilia Hadjar berada di urutan teratas, mengalahkan calon petahana yang pada saat itu petahana yakni Sofhian Mile.

Ma’mun-Batia didukung 38,1 persen, Sofhian Mile-Sukri Djalumang 22,5 persen dan Herwin Yatim-Mustar Labolo 14,9 persen. Meski tidak sebanyak hasil yang diperoleh Herwin saat ini yang disebut Matahari Tunggal, namun posisi Herwin Yatim dalam survei adalah yang terendah dari 3 paslon Bupati pada saat ini.

Namun alih-alih Herwin bersama Mustar dengan tagline Winstar berhasil memenangkan pertarungan melawan Mantan Bupati Banggai Ma’mun Amir dan petahana Sofhian Mile dengan perolehan suara  69.315 Suara (37,95%), sedangkan Sofhian Mile memperoleh 51.767 Suara (28,34%) dan Ma’mun Amir 61.571 Suara (33,71%) . (Data KPU).

Kali ini, Herwin Yatim kembali diperhadapkan dengan moment Pilkada 2020. Jika pada 2015 Herwin melawan mantan Bupati dan petaha, saat ini Herwin Yatim merupakan calon yang notabenenya adalah petaha. Dan lawan Herwin saat ini merupakan merupakan tokoh yang dianggap punya daya saing yang tinggi untuk melawan seorang petahana.

Mitos Pilkada Banggai

Selain dari itu, sadar atau tidak Herwim saat ini diberhadapkan dengan mitos Pilkada Banggai yang diyakini hingga saat ini belum satupun Bupati yang bisa menembus dua periode secara beruntun.

Jika sebutan Matahari Tunggal untuk Hewin Yatim pada survei LSI membuat optimis para pendukungnya untuk memecahkan mitos Pilkada, namun ada pesimisme yang dinilai akan mengganjal Herwin untuk memecahkan mitos yang selama ini diyakni oleh sejumlah orang di Kabupaten Banggai. Itu adalah jika Herwim tidak mendapatkan rekomendasi DPP partai PDIP untuk mengusung Herwin. Dan arternatifnya pria yang juga mantan Wakil Bupati Banggai ini harus menempuh jalur independen.

Menggunakan jalur independen bukanlah hal yang mudah, kenapa? Karna syarat utamanya adalah harus mengumpulkan copy KTP sebanyak 10 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) atau 20 ribu lebih. Namun hal ini akan terjadi jika Herwin tidak mendapatkan rekom partai, dan untuk mendapatkan rekom PDIP Herwin dinilai masih sangat optimis.

Apakah Sang Matahari Tunggal menurut LSI akan dapat pecahkan mitos Pilkada Banggai?

Ikuti terus perkembangan politik Pilkada Banggai !!!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
%d bloggers like this: