Connect with us

Artikel

Tarif Baru Sambut Tahun 2020

Oleh : Marhum Backrie

Tinggal berhitung jari, tahun 2019 akan menjadi cerita untuk para anak dan cucu. Yang mana tahun Babi Tanah yang disebut pada Zodiak Cina ini hanya menjadi ruang mimpi untuk merubah masa depan.

Di Indonesia , tahun 2019 merupakan tahun bersejarah dalam sistim demokrasi. Karena ditahun ini, Indonesia telah sukses menjalani pesta demokrasi pemilihan legislatif yakni DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI , DPD RI dan Pemilihan Presiden yang melahirkan para wakil rakyat dan pemimpin baru sebagai Presiden RI periode 2019 – 2024.

Dengan begitu, sejumlah negara luar sangat kagum dan salut kepada Indonesia yang mampu menjalankan sistem pemilihan langsung secara serentak dengan 5 lembar kertas suara sekaligus. Pelantikan pun telah usai dan sistem pemerintahan kembali normal yang dipimpin oleh pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Dan saat ini, masyarakat dunia khususnya Indonesia kembali diperhadapkan dengan perayaan tahun baru 2020 dengan membawa mimpi perubahan taraf hidup ditahun yang disebut dengan tahun Tikus Logam menurut ramalan zodiak Cina.

Namun sayangnya, ditahun 2020 nanti, seluruh masyarakat Indonesia akan menjalankan kewajiban yang sama sebagai hadiah (aturan) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Apa saja?

1. Iuran BPJS

Mulai 1 Januari 2020 , kenaikan iuran BPJS Kesehatan akan diberlakukan. Kenaikan ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang diteken Jokowi pada 24 Oktober 2019.

Penerima Bantuan Iuran (PBI), iuran naik dari Rp 23.000 menjadi Rp 42.000 per jiwa. Besaran iuran ini juga berlaku bagi Peserta yang didaftarkan oleh Pemda (PBI APBD). Iuran PBI dibayar penuh oleh APBN, sedangkan Peserta didaftarkan oleh Pemda (PBI APBD) dibayar penuh oleh APBD.

Pekerja Penerima Upah Pemerintah (PPU-P), yang terdiri dari ASN/TNI/POLRI, diubah menjadi 5% dari gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan atau tunjangan umum, tunjangan profesi, dan tunjangan kinerja atau tambahan penghasilan bagi PNS Daerah. Dengan batas sebesar Rp 12 juta, dimana 4% ditanggung oleh Pemerintah dan 1% ditanggung oleh ASN/TNI/POLRI yang bersangkutan.

Pekerja Penerima Upah Badan Usaha (PPU-BU) menjadi 5% dari total upah dengan batas atas upah sebesar Rp 12 juta, dimana 4% ditanggung oleh Pemberi Kerja dan 1% ditanggung oleh Pekerja.

Berikut kenaikan iuran berdasarkan kelas pada BJS Mandiri atau Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) :

Kelas 1: naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per jiwa.

Kelas 2: naik dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 per jiwa.

Kelas 3: naik dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000 per jiwa.

Tentunya, dengan kenaikan iuran tersebut tidak sedikit peserta BPJS Kesehatan yang akan terseok – seok. Betapa tidak, dengan kondisi itu beberapa peserta BPJS lebih memilih untuk berhenti sebagai peserta. Karena dengan nominal tersebut dianggap diluar dari kemampuannya.

Disisi lain, dengan iuran semakin melonjak tinggi, kualitas pelayanan kesehatan terhadap peserta BPJS Kesehatan masih sangat diragukan. Misalnya, banyak keluhan peserta BPJS Kesehatan yang mengalami lambannya pelayanan medis dibandingkan dengan pasien umum.

Namun, disisi lain masyarakat diwajibkan untuk terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Dengan kenaikan iuran ini, peserta BPJS hanya dapat menurunkan kelas pelayanannya jika tidak menyanggupi kenaikan iuran yang telah ditetapkan.

2. Tarif Cukai Rokok

Secara historis tembakau merupakan salah satu industri nasional terbesar di Indonesia dan menyumbang hampir 96 persen dari total cukai nasional.

Di Indonesia, tingkat masyarakat yang mengkonsumsi rokok cukup besar. Terlebih, sejak dibangku pendidikan kebanyakan kaum adam di Indonesia telah aktif mengkonsumsi rokok dan hal itu telah dianggap tidak asing lagi.

Saat ini, PMK 152/2019 tentang kenaikan tarif cukai tembakau sudah terbit dan akan berlaku pada 1 Januari 2020. Dalam PMK teranyar ini, rata-rata kenaikan tarif CHT tahun 2020 sebesar 21,55%.

Secara rerata, tarif CHT Sigaret Keretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29%, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95%, dan Sigaret Keretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik 12,84%.

Kenaikan yang cukup dramatis, dimana peminat rokok yang cukup tinggi dengan penerapan harga yang melambung tinggi. Akankah rokok tetap menjadi kebutuhan primer para pria atau akan berubah menjadi kebutuhan skunder dengan mengurangi kadar konsumsinya. Atau bahkan beralih ke rokok elektrik yang akrab disebub Vape?

Jika benar, bagaimana nasib industri rokok tembakau yang sudah sejak lama berkontribusi besar bagi negara ini kedepannya?

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar pecandu rokok sulit untuk menghindari untuk menghisap asap yang berasal dari hasil pembakaran tembakau. Apalagi pada saat ngopi bareng teman dan setelah makan. Pada saat itu rokok sangat memiliki nilai yang istimewa karena dapat memberikan kenikmatan yang lebih bagi para pencinta rokok, meski disetiap bungkusnya bertuliskan “Merokok Membunuhmu”.

Namun, apakah dengan kenaikan Cukai tembakau ini akan memberikan perubahan dan tulisan Merokok Membunuhmu itu akan mempengaruhi konsumsi oleh pecandu rokok?

Entahlah…

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
%d bloggers like this: